Siapkah Kita Menjadi Tumbal Arus Moderenisasi ?

Mandalika - Kuta Lombok © Armin Sunardi 


Mengagumkan! Hari ini saya mengunjungi Pantai Kuta Lombok setelah hampir tiga tahun lamanya saya tidak pernah berkunjung, semua tampak berbeda, kafe, restoran, hotel berjejer tampak rapi di samping kiri dan kanan jalan.
Perkembangan pariwisata di lombok tengah kian begitu maju pesat, khususnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang memang sudah menjadi program prioritas pemerintah pusat bekerjasama dengan pemprov NTB.

Penataan kawasan yang begitu komplit mulai dari parkirkan, kebersihan serta keamanan cukup terjaga bahkan saya sampai dibuat linglung, dulu kalo saya berkunjung kendaraan bisa langsung tembus ke pantai sekarang sudah ada parkir khusus.
Dari kejauhan saya melihat hotel-hotel mewah, menjulang tinggi nan megah masih dalam tahap pengerjaan dan mungkin tahun depan bisa beroperasi.

Tapi ada satu hal yang saya rasa hilang, saya tidak menemukan turis-turis yang biasa berjemur di bibir pantai seperti dulu, kemana mereka ?? dulu menjadi pemandangan yang selalu saya temukan, apakah mereka merasa terganggu ??
Dari pesatnya kemajuan yang kita lihat saat ini ada satu nilai estetika yang kita tanggalkan dan lupakan, bagaimana mengkolaborasikan budaya dalam arus modernisasi.

Para wisatawan mancanegara berkunjung ke lombok karna mereka ingin melihat keunikan dan indahnya panorama alam, pantai, bangunan khas, budaya, dan adat istiadat kita, bukan ingin melihat bangunan megah yang menjulang tinggi nan mewah ataupun jalan beraspal (paping blog) yang tampak modern karna hal semacam itu sangat mudah mereka temukan di negaranya bahkan mereka sudah bosan melihatnya. 

Berkaca dari tetangga kita Pulau Bali, yang tak pernah sepi dari perbincangan dunia bahkan banyak Bule yang mengatakan mengenal Indonesia karna Bali, saya tidak sedang mencoba untuk membandingkan Lombok dan Bali, tapi ada hal positif yang mestinya bisa kita petik, bagaimana Bali mampu mempertahankan serta memadukan keunikan Budayanya, bangunan khas dan adat istiadat mereka ditengah arus Modernisasi.

Inilah yang menjadi titik lemah kita, melihat dengan adanya pembangunan lalu kita merasa bahwa kita sudah sejajar dengan Bali, itu tidak akan terjadi selama kita tidak mampu mempertahankan, menampilkan atau menonjolkan kekhasan sebagai poin lebih yang kita miliki “ini lho lombok pulau seribu masjid dengan pesona alam, pantai dan budayanya”.
Sejauh ini saya melihat kita tidak mendapatkan apapun dari brand yang kita miliki, seperti Lombok pulau seribu masjid, lombok dengan pesona pantai dan alam yang indah ataupun keunikan budaya yang kita miliki, kita hanya menjual atau menampilkan barang mentah tanpa polesan.

Apa yang bernilai ekonomi dari nama pulau seribu masjid ataupun keindahan alam dan keunikan budaya yang bisa kita berikan atau tunjukkan kepada orang luar dan mempunyai nilai untuk kesejahteraan kita bersama ?? Apakah hanya  jejeran seribu masjid, ataukah hamparan pantai sajakkah ?? 
Parade budaya, tarian kesenian dan sebagainya hanya bisa kita jumpai ketika ada event besar dan upacara pernikahan ( begawe ), selebihnya tidak ada lagi, KEK Mandalika butuh wadah atau Sanggar seni seperti halnya Taman Budaya NTB di Mataram, yang selalu terus aktif menampilkan parade budaya, tarian kesenian wayang khas Lombok dan sebagainya.

Untuk pembangunan Masjid mungkin perlu adanya peraturan pemerintah guna mengatur hal ini, seperti halnya kita bisa mengadopsi gaya arsitektur Masjid khas daerah yang ada di seluruh Indonesia bahkan luar negeri kita tampilkan di Lombok, dengan begitu Pulau Seribu Masjid bisa menjadi wisata religi, yang menghasilkan nilai sejarah, budaya dan ekonomi.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama