Kekeringan Meteorologis Level Siaga dan Awas Ancam Dua Kecamatan di Bima, NTB

Peta peringatas dini kekeringan meteorologis di wilayah Nusa Tenggara Barat. (Foto: Antara)

Shopee Advertisement

LASNEWS.ID, MATARAM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kekeringan meteorologis kini tersisa di dua kecamatan di Kabupaten Bima. Kedua wilayah tersebut yakni Kecamatan Lambu dan Kecamatan.

Hal tersebut dikemukakan oleh Nindya Kirana, Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB. Menurutnya kedua kecamatan tersebut berstatus level siaga dan awas.

"Kekeringan meteorologis level siaga ada di Kecamatan Lambu, sedangkan status awas terletak di Kecamatan Sape," kata  Nindya Kirana, dilansir Antara, Senin, (2/10/2026).

Baca juga: Reses di Desa Tanak Rarang, Lalu Sarjana Serap Aspirasi Warga Untuk Serap Pembangunan Merata

Sepanjang dasarian III bulan oktober atau 21-31 oktober, hujan lokal turun merata secara sporadis di hampir seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat yang disebabkan oleh dinamika atmosfer. Kemunculan hujan lokal menjadi penanda periode pancaroba, yaitu peralihan musim kemarau ke musim penghujan.

Meski demikian, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB masih tergolong rendah. Angkanya berkisar 0 sampai 10 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Kotaraja (Montong Gading) Kabupaten Lombok Timur sebesar 104 milimeter dasarian.

Shopee Advertisement

Pada dasarian I November atau periode 1-10 November 2026, BMKG memperkirakan peluang curah hujan lebih dari 20 milimeter per dasarian mencapai lebih dari 90 persen. Potensi tersebut diperkirakan terjadi hampir diseluruh wilayah Pulau Lombok, Sumbawa Barat, dan sebagian wilayah Kabupaten Sumbawa.

Sementara potensi hujan berpeluang 50 hingga lebih dari 90 persen diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Mataram, Narmada, Lingsar, Gunungsari, Kediri, Pringgarata, Mantang, Batukliang Utara, Kopang, dan Jonggat.

Nindya menghimbau untuk masyarakat yang berada diwilayah tersebut selalu mengupdate informasi dari laman resmi BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana.

"Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim resmi BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi dampak bencana hidrometeorologi," ungkap Nindya.

Baca juga: Kabar Baik! Paus Raksasa Yang Terdampar di Perairan 17 Pulau Riung Berhasil Diselamatkan

Berdasarkan laporan BMKG, fenomena El Nino yang menimbulkan kemarau panjang saat ini berada pada kategori sangat kuat. Indeks ENSO mencapai +3,05 derajat Celcius. El Nino diprediksi berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Selain El Nino, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada pada fase positif dengan indeks +0,765. Kondisi ini diperkirakan bertahan hingga akhir 2026.


Lebih baru Lebih lama