NTB Daerah Penghasil Udang Terbesar Nasional

Ilustrasi Udang

LASNEWS.ID, MATARAM - Nusa Tenggara Barat (NTB) masih memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri udang nasional. 

Dalam beberapa tahun terakhir, NTB tidak hanya unggul dari sisi produksi, tetapi mulai menunjukkan peran penting dalam ekspor dan arah pengembangan industri berbasis nilai tambah.

Perkembangan ini menjadikan NTB sebagai wilayah strategis dalam peta industri udang Indonesia yang terus berkembang.

Dominasi NTB sebagai produsen udang terbesar di Indonesia bukan fenomena sesaat. Dalam data terakhir tahun 2024 dari Portal dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), NTB menjadi provinsi dengan produksi udang terbesar di Indonesia mencapai 196.398 ton, diikuti oleh Jawa Timur 110.666 ton, dan Jawa Barat 101.678 ton.

Tingginya produksi ini tidak terlepas dri berkembangnya sistem budi daya intensif hingga super intensif, terutama untuk udang vaname, yang didukung oleh kondisi geografis NTB yang relatif ideal. 

Kawasan pesisir di Lombok dan Sumbawa menjadi basis utama pengembangan tambak, dengan pertumbuhan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memperkuat posisi NTB sebagai tulang punggung produksi udang Indonesia.

Baca juga : Didukung 10 DPC,  Eks Kapolda NTB Siap Maju Jadi Ketua Demokrat NTB

Meskipun produksi udang di NTB tergolong sangat tinggi, sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah. Kondisi ini menunjukkan bahwa rantai nilai industri belum sepenuhnya berkembang di dalam daerah. 

Sebagian besar udang dari NTB, baik dari Lombok maupun Sumbawa, masih dikirim ke luar daerah seperti Surabaya dan Banyuwangi untuk diproses lebih lanjut sebelum diekspor.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, H. Muslim, menjelaskan selama ini udang dari NTB banyak dibeli oleh pelaku usaha luar daerah dan diproses di sana. Situasi tersebut membuat nilai tambah dari industri pengolahan justru lebih banyak dinikmati oleh daerah lain.

Dengan kata lain, NTB masih sangat kuat di sektor hulu, tapi belum sepenuhnya optimal dalam memanfaatkan potensi ekonomi dari sektor hilir.

Sektor budi daya udang di NTB masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal tata kelola. Temuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan hanya 10% tambak yang telah memiliki izin lingkungan lengkap. Selain itu masih terdapat ketidaksinkronan data antar instansi terkait pengelolaan tambak.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai risiko, mulai dari dampak lingkungan hingga potensi kehilangan pendapatan daerah. Sehingga perbaikan sistem perizinan, pendataan, dan pengawasan menjadi langkah penting untuk memastikan industri udang dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Tekanan penyakit juga datang dari sisi budi daya, pada Laporan Shrimp Outlook 2026 di Nusa Tenggara mencatat positivity rate IMNV 12,53%, EPH 7,91%, AHPND 5,72, dan kemunculan WMS yang turut memengaruhi penurunan ADG.

Menyadari tantangan tersebut, pemerintah daerah mulai mendorong transformasi industri melalui pengembangan sektor hilir. Fokus ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas udang yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk mentah.

Pemerintah Provinsi NTB tengah menyiapkan kawasan industri pengolahan udang di beberapa wilayah potensial. Diharapkan dapat menarik investor sekaligus menciptakan ekosistem industri yang lebih terintegrasi. 

Menurut H. Muslim, ke depan udang dari NTB ditargetkan tidak lagi keluar dalam bentuk mentah, melainkan sudah melalui proses pengolahan di dalam daerah. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi sekaligus membuka lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat setempat.

Peran udang dalam perekonomian NTB juga terlihat dari kinerja ekspor yang masih tinggi. Berdasarkan rilis resmi pemerintah provinsi melalui Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor NTB pada Februari 2025 mencapai US$ 7,28 juta, naik sebesar 87,17% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh sektor perikanan, khususnya komoditas ikan dan udang.

Baca juga : Matangkan Persiapan Jelang MotoGP : Polda NTB Antisipasi Penggunaan Stiker Kendaraan Palsu

Komoditas ikan dan udang tercatat menjadi penyumbang terbesar ekspor NTB dengan nilai sekitar US$ 2,8 juta atau setara 38,59% dari total ekspor. 

Kepala BPS NTB, juga menegaskan kenaikan ekspor ini menunjukkan peran penting sektor perikanan dalam menopang ekspor daerah, terutama saat komoditas tambang tidak mendominasi.

NTB masih menjadi pilar utama produksi udang nasional dengan kontribusi besar terhadap ekspor, tapi kekuatan di sektor hulu ini belum sepenuhnya diikuti oleh optimalisasi nilai tambah di dalam daerah.

Tantangan seperti tata kelola tambak yang belum optimal menunjukkan bahwa peningkatan produksi saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan industri.

Dengan dorongan hilirisasi dan perbaikan sistem pengelolaan, NTB memiliki peluang untuk bertransformasi dari sekadar produsen menjadi pusat industri udang yang lebih terintegrasi dan berdaya saing tinggi.


Lebih baru Lebih lama