![]() |
| Mahfud MD (Foto: X) |
LASNEWS.ID, JAKARTA - Kasus penyadapaan yang dilakukan oleh mantan Kapolri yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP) membuat gempar tanah air.
Jenderal Sigit dilantik sebagai Kapolri oleh Presiden ke-7 Joko Widodo pada 27 Januari 2021, kemudian berlanjut di era Presiden Prabowo Subianto 2024-2026, sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) sejak 1 Oktober 2026.
Tanpa ragu, Presiden Prabowo secara terbuka memuji Jenderal Listyo Sigit karena dinilai responsif dan sukses mengerahkan personel Polri untuk berkontribusi nyata dalam program pangan, salah satunya melalui aksi gerakan menanam jagung, bahkan oleh pimpinan komisi III disebut polisi terbaik sepanjang sejarah.
Namun, semua pujian seakan sirna setelah Jenderal Listyo Sigit ditetapkan oleh Bareskrim Polri sebagai tersangka kasus penyadapan tanpa prosedural terhadap Presiden Prabowo Subianto. Ia diduga menyadap telepon pribadi Prabowo sejak tahun 2024-2025.
Sebuah anomali, ketika seorang kepala polisi justru menyadap kepala negaranya sendiri. Hal ini dikemukan oleh mantan Menkopolhukam, Mahfud MD yang pernah menjadi patner kerja Jenderal Listyo Sigit di era kabinet Indonesia Maju.
"Polisi terbaik sepanjang sejarah ternyata jadi tersangka sebagai pelaku kejahatan terjahat di sepanjang sejarah Polri yakni menyadap kepala negaranya sendiri. Gilaaaa," kata Mahfud melalui akun X pribadinya, Rabu, (4/11/2026).
Menurut Mahfud, dalam hal tertentu Presiden Prabowo telah menunjukkan ketegasannya, Selain Listyo Sigit, sebelumnya ada juga nama Dadan Hidayana tersangka kasus korupsi program MBG.
"Ada juga Dadan Hindayana yang dulu selalu dibela dan dipuji-puji oleh presiden akhirnya digelandang ke pengadilan karena kasus korupsi gila-gilaan di program MBG," ujarnya.
Begitupun dengan Jaksa Agung Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah yang disebut sebagai algojo para koruptor dan merupakan orang kepercayaan Prabowo akhirnya dikirim ke pengadilan karena dakwaan korupsi di atas korupsi.
"Jadi jangan keterlaluan berkorupsi ria dan melakukan pengkhianatan, misalnya karena merasa sok dekat dengan Presiden Prabowo. Kalau Anda keterlaluan, ditindak tegas juga kan? Ayo, Pak Presiden, gembirakan rakyat dengan ketegasan yang lebih banyak lagi," tandas Mahfud.
Topik :
Nasional
